- Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
- Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
- Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.
- Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.
- Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
- Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.
- Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.
- Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
- Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.
- Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya.
- Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.
- Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman kekerasan fisik dan seksual.
- Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
- Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan. (Catatan: yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik.)
- Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
- Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.
- Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.
- Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.
Monday, November 9, 2009
KODE ETIK AJI (ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN)
Posted by B. Sasongko at 8:08 AM 0 comments
Saturday, October 17, 2009
To cure homesickness for the city of Jogja with hearing a radio broadcast can be accessed via www.jogjastreamers.com
Jogja full of memories. From the rich aroma to the radio. There Retjobuntung, radio preserve national culture, which Geronimo Love Jogja and You, to MBS radio dangdutnya Jogja. To cure homesickness for the city of Jogja with hearing a radio broadcast can be accessed via www.jogjastreamers.com. Here's a little about jogjastreamer.
JOGJASTREAMERS is one of the sites multimedia service providers for live streaming stations FM radio in the city of Yogyakarta and surrounding areas. Where each radio has broadcast a variety of formats from contemporary hit radio, news, dangdut, Javanese culture, oldies music and more. JOGJASTREAMERS established in 2007 as a division of Internet service provider PT Citra Nusantara Bridge currently has a variety of internet services ranging from infrastructure to content. With so many communities of learners, students and young executives who had studied and worked in the city of Yogyakarta will certainly miss the city of Yogyakarta situation. The presence of these services became JOGJASTREAMERS homesickness antidote to all those who had lived in Yogyakarta and want to know the condition of the city of Yogyakarta via live streaming radio that can be accessed via the Internet. JOGJASTREAMERS hopes eventually as a live streaming service provider is any radio station in town Yogyakarta in particular broadcasts can be enjoyed throughout the archipelago and even later on in the world via the Internet.
Posted by B. Sasongko at 8:21 PM 0 comments
Labels: geronimo, jogja, jogjastreamer, love jogja and you, radio, retjo buntung, streaming
Thursday, October 15, 2009
Blog with multiple language
Write a blog with the English language is not a big deal anymore. Today there are many sites that help you translate the text, paragraph and even the web.
There google translate, BabelFish, prompt, and MSN Traslator.
Translation ConveyThis using online translators such as Google Translator, BabelFish, MSN Traslator, and Promt to translate your web site quickly and efficiently! We combine all translators into one small, easy to use buttons. Translation in more than 40 languages are supported, with more to come soon
Posted by B. Sasongko at 10:07 PM 0 comments
Monday, October 12, 2009
Kidung Rumeksa Ing Wengi
----------------------------
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman
Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal
Terjemahan dalam bahasa indonesia:
Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.
Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.
Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.
Posted by B. Sasongko at 12:35 AM 0 comments
Wednesday, September 16, 2009
Wahyu Seksualitas Agama
Oleh : Salamun Ali Mafaz
“Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang.
Kalau orang kepalanyangeres,
dia akan curiga bahwa Alquran itu kitab suci porno, karena ada ayat tentang
menyusui (al-Baqarah: 233) dan ada roman-romanan antara Zulaikha dengan Yusuf
(Yusuf: 24).”
KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur)
Persekongkolan Agama, Wahyu dan Seksual
Wahyu seksualitas agama, sudah terkandung dalam beberapa ayat misalnya ayat yang diklaim diperbolehkannya poligami, (fankihu maa thaba lakum minan nisa masna wa tsulasa wa ruba’) atau ayat yang berkenaan dengan aturan berhubungan (nisaa ukum hartsun lakum,). ayat tentang menyusui (al-Baqarah: 233) dan ada roman-romanan antara Zulaikha dengan Yusuf (Yusuf: 24).Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang berhubungan dengan dunia remang-remang dan dunia kelamin.
Dalam beberapa hadits juga banyak yang mengupas tentang masalah
seksualitas, bahkan dalam tradisi pesantren ada kitab yang mengupas khusus
masalah dunia kelamin ini, ambil contoh misalnya kitab Uqud lujayyin yang mengatur relasi suami-istri, atau kitab qurrotun ‘uyyun yang
mengupas lebih mendalam lagi dunia seksual.Di dalam kitab `Ubab misalnya diterangkan secara vulgar masalah dunia kelamin ini.
Kenapa dunia seksualitas selalu dianggap najis bahkan diklaim sebagai lingkaran setan, nyatanya tidak demikian, wahyu seksualitas agama sudah mengatur lebih mendalam tentang hal demikian, namun mungkin perbedaannya lebih dikemas secara bermoral, beda dengan wacana lain yang seakan ditampilkan agak senonoh dan tidak bermoral.
Masalah hasrat seksual manusia, tentunya kita kembalikan kepada masing-masing individu, seperti apa pengalaman dan insting mereka. Misalnya, seseorang yang hidup di Eropa tidak bisa disamakan dengan seseorang yang hidup di Timur Tengah. Atau contoh lainnya misalkan, seseorang yang hidup di Pulau Bali, Papua, tidak bisa disamakan dengan seseorang yang hidup di Pulau Jawa. Dengan demikian, cara pandang dalam menyikapi masalah seksual tidak bisa disamakan, dan tentunya masalah hukum saya rasa perlu adanya pertimbangan khusus. Dalam kaidah ushul fiqih terdapat kaidah al hukmu yadurru ma’alillah wujudan wa ‘adaman dan kaidah al’adah muhakkamah.
Sejatinya, wahyu seksualitas agama memang sudah ada, namun bedanya sebelum wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad. Kancah seksualitas dilakukan secara binal dan penuh dengan eksploitasi terhadap perempuan. Kita tahu sendiri bagaimana hasrat seksual bangsa Arab pada waktu itu, Al-Quran sendiri menyebutnya sebagai assyadul kufr wan nifaq, baru setelah wahyu turun kepada Nabi, masalah seksual ini agak diberi rambu-rambu khusus termasuk aturan dalam berpoligami. Akan tetapi mau tidak mau sebenarnya masalah poligami hanyalah menjurus kepada masalah seksual dan pemenuhan hasrat belaka.
Dalam prespektif religius, agama-agama memiliki dasar pengetahuan mengenai wilayah ini, berkat pewahyuan yang mereka terima; karena itu agama merasa mampu mengatasi kebimbangan terhadap wilayah remang ini dan menetapkan perilaku normatif untuk mengantisipasinya. Agama yang berkembang menjadi lembaga resmi dalam menjalankan fungsi sosial, karena posisi pengetahuannya, dan merasa berhak mengendalikan, baik dengan norma-norma maupun upacara-upacara. Namun manusia modern sebagai subjek yang berhasrat (the desiring subjek) rupanya mempunyai keberanian bertualang untuk memasuki wilayah remang dengan resikonya sendiri, daripada mentaati rambu-rambu yang dicanangkan agama.
Dalam agama, sangat jelas tampak berlangsungnya konspirasi pengetahuan- kekuasaan. Pengetahuan yang terungkap di dalam norma-norma yang mengatur kehidupan seksualitas penganutnya adalah salah satu sisi dari mata uang yang sama dari kekuasaan. Visi tentang tubuh sangat mewarnai agama-agama dalam merumuskan norma-norma yang terkait dengan seksualitas. Pengetahuannya itu menentukan perilaku, cara berpikir, cara berbicara, cara berpakaian penganutnya.
Dapat dilihat bahwa dengan adanya isu seksualitas, naluri “agama” yang sebelumnya tidak pernah tampak dalam mengurus moralitas publik, perlahan mulai kambuh. Dalam tayangan di televisi, maupun media banyak ditampilkan gambaran agama sebagai hakim moral yang dapat menyelesaikan masalah, yang hanya dengan doa dan fatwa.
Agama manapun sebenarnya memiliki potensi untuk memunculkan pandangan negatif tentang seksualitas. Walaupun demikian, agama memiliki batasan-batasan tersendiri terhadap seksualitas, karena agama sebagai institusi juga berhak mengarahkan para pemeluknya pada suatu normalitas tertentu. Dengan demikian, agama mempunyai kepentingan dengan tubuh dan kejasmaniahan para pemeluknya, melalui para agen-agennya agam membuat peraturan religius tertentu tentang cara berpakaian, cara bergaul, dan etika dalam hubungan seksual.
Manusia diciptakan dengan tubuh dan hidup dengan dengan anggota tubuhnya, dalam pengalaman inilah ia bersekutu dengan hewan, yang sama-sama juga mengandalkan tubuh untuk memuaskan nalurinya. Walupun demikian, disisi lain manusia juga diciptakan dengan jiwa dan pikiran. Menurut para filusuf muslim, adanya jiwa dan pikiran inilah yang membuat manusia, meski memiliki status hewani, setara dan bahkan lebih mulia daripada para malaikat. Dengan begitu, pada dasarnya manusia adalah “mahluk yang unik” karena diciptakan dengan dua potensi yang berbeda. Di satu sisi, ia bukanlah malaikat yang beribadah melulu dan suci dari dosa, sebab ia hidup dengan tubuh dan naluri seksualnya. Sementara disisi lain, ia juga bukan hewan yang secara liar memuaskan tubuhnya. Keunikan inilah yang konon membuat para malaikat menjadi iri, sehingga merekapun menggugat tuhan “attaj’alu fiyha man yufsidu fi al-ard wa yasfiku ad-dima”, Tuhan membalas gugatan
malaikat dengan “inni a’lamu ma la ta’lamuun”, Tuhan lebih mengetahui dari pada para malaikat tentang kemampuan manusia menjadi khlifatullah fi al-ard.
Dari cerita Kitab Suci, tampak bahwa Tuhan sebenarnya tidak mempermasalahkan masalah seksualitas. Tubuh manusia bukanlah ancaman bagi agama, karena Tuhan dengan segala ampunannya dihadirkan kepada manusia, justeru lewat tubuh itu manusia mempunyai suatu keunikan yang membedakannya dari malaikat.
Tanggapan kaum agamawan terhadap apapun yang terkait dengan tubuh, kelamin, dan seks tidak jauh dari vonis moral. Awalnya adalah keprihatinan pada merosotnya “moral bangsa” yang kemudian berubah menjadi penilaian dan stereotip, hingga akhirnya muncul penghakiman- penghakiman.
Pada Abad Pertengahan, banyak raja menikmati jamuan selir-selirnya, sementara di dinding-dinding mereka terpampang ayat-ayat suci. Dan pada zaman modern, di Arab Saudi yang dikenal ketat menerapkan syariat Islam, banyak majikan memperlakukan para pembantu perempuannya secara tidak senonoh, di tempat dimana Kitab Suci setiap waktu dilantunkan, seks diam-diam jadi pemandangan sehari-hari. Moralitas puritan, meminjam istilah Farid Esack, muncul dari “teologi hukuman” (theology of punishmen). Setiap pelanggaran apapun terhadap agama, harus segera dihukum. Dalam teologi ini, Tuhan dibayangkan sebagai hakim yang menghukum kesalahan hamba-Nya, kesalahan apapun tidak bisa ditoleransi, karena hukum agama sudah jelas menetapkan siapa yang taat dan siapa yang berdosa.
Agama Dan Wahyu Sebagai Pengatur
Sepanjang sejarah, persepsi agama terhadap tubuh terus berubah dan berganti rupa, terkadang aagama mengklaim positif dan terkadang juga negatif. Tetapi, tubuh selalu menjadi persoalan penting dalam agama karena keberadaannya yang selalu didialektiskan dengan “roh” atau “jiwa”. Perbincangan apap pun tentang tubuh dalam agama, secara implisit maupun esplisit, pasti menyiratkan upaya mempertentangkan atau mempertemukan antara tubuh dengan roh/jiwa, tak terkecuali dalam agama Semitik.
Agama Yahudi, misalnya mengembangkan pandangan yang relatif positif terhadap tubuh. Para pemeluk agama Yahudi tidak mengenal dikotomi tubuh dan jiwa sebagimana yang ditanamkan secara turun temurun dalam filsafat dan kebudayaan Yunani. Agama Yahudi tidak menafikkan seksualitas dan menganggapnya sebagai berkah yang harus dirayakan. Seks bukanlah persoalan yang harus dikutuk dan ditakuti, bahakan aktivitas-aktivitas seksual seperti bersetubuh dan bercinta disikapi secara wajar. Bahkan konon dalam Perjanjian Lama, begitu banyak ajaran-ajaran moral yang dibumbui dengan metafora tentang persengamaan, anggur, dan percintaan. Pada hari Sabat, sembari istirahat dari kesibukan duniawi, umat Yahudi dianjurkan untuk memanjakan tubuh dengan makan, minum, dan kesenangan lahiriah lainnya, hari Sabat dipuji-puji dengan metafora sensual “pengantin suci” yang kedatangannya selalu dinanti dan didamba.
Agama Kristen cenderung mengambil sikap yang berbeda dalam menyikapi seksualitas. Agama ini mewarisi mentalitas Yunani yang ambigu dan mendua tentang tubuh. Disatu sisi, tubuh diyakini sebagai penjelmaan dari roh kudus sehingga bersifat sakral, suci, dan memiliki kualitas spiritual. Tetapi disisi lain, tubuh tetaplah sebuah ancaman terhadap jiwa dan pikiran, karena tubuh sering dinilai menjerumuskan manusia ke adalm dosa dan nista.
Umat Islam, seperti umumnya umat Yahudi dan Kristen, dalam hal tertentu juga menaruh rasa curiga tehadap tubuh perempuan sebagai sumber dosa. Sebagian pandangan negatif itu muncul dari kultur Arab saat itu, yang memang memandang perempuan sebagai manusia kelas dua, dan sebagiannya lagi merupakan penafsiran yang bias terhadap Kitab Suci dan sunnah Nabi. Kedua hal ini memberikan pandangan yang sempit terhadap tubuh sebagai instrumen seksual yang harus diwaspadai dan diawasi. Agama Islam yang terlahir di Arab, tidak dapat dipungkiri lagi bersinggungan dengan mentalitas patriarki yang berkembang pada tradisi-tradisi monoteis sebelumnya. Sebuah mitos yang berkembang sejak dulu, namun masih terus dipertahankan hingga saat ini, meyakini bahwa laki-laki mempunyai gairah dan kekuatan seksual yang lebih kuat dari pada perempuan. Atas dasar inilah umat Islam membatasi seksualitas aktif perempuan untuk menjaga perempuan tetap dalam wilayah
domestiknya. Dan menempatkan tubuh perempuan secara terus-menerus di bawah pantauan agama, karena agama menginginkan perempuan tetap bergantung padanya tanpa pernah mampu untuk mandiri.
Dalam pandangan Islam, juga agama-agama umumnya, hakikat manusia bukanlah pada tubuhnya, melainkan pada ruhaninya, pada hati dan pikirannya, yang teraktualisasi pada akhlak dan amal perbuatannya. Maka berbeda dengan binatang, tidaklah sepantasnya manusia mempertaruhkan harga dirinya pada tubuhnya. Dalam perspektif ini, maka manusia yang suka memamerkan tubuhnya, pada dasarnya tengah merendahkan martabatnya, membinatangkan dirinya. Pamer tubuh lazimnya dimotivasi oleh keinginan mendapatkan reaksi yang setimpal, reaksi tubuh yang bermuara pada nafsu yang juga khas tubuh, libido.
Pada dasarnya orang yang pamer keindahan tubuhnya adalah orang yang juga tidak memiliki kepekaan terhadap orang lain, terutama yang kebetulan dianugerahi tubuh yang buruk, cacat. Tubuh indah atau buruk adalah anugerah Tuhan, dengan hikmahnya masing-masing. Manusia tidak berhak menyombongkannya atau pun mencelanya. Memamerkan aurat dengan dalih hak asasi manusia. Karena sejatinya hak asasi manusia adalah hak yang melekat secara kodrati pada diri manusia sebagai makhluk Tuhan demi mempertahankan eksistensi dan martabatnya.
Secara umum, umat beragama tengah menghadapi dua arus besar yang sama dahsyatnya. Yaitu kapitalisme dan patriarki. Keduanya saling memberikan pandangan yang sempit bagi penyempitan makna tubuh dan seksualitas. Kapitalisme bekerja mendistorsi tubuh untuk dijadikan komoditas. Sementara patriarki mendiskriminasi tubuh agar tunduk dan patuh pada norma yang ada. Umat Islam berada dalam dua himpitan tersebut, di lingkungan tradisional patriarki terlihat lebih dominan. Disini tubuh dianggap identik dengan tabu, dan pembicaraan apapun tentang seksualitas akan ada vonis moral. Sementara di lingkungan yang lebih modern dan terbuka, kapitalisme mengambil alih patriarki dengan membiarkan tubuh secara liar untuk dijadikan objek, komoditas, dan hiburan. Agama dapat mengimbangi dua arus besar itu dengan semangat yang membebaskan manusia dari tindakan diskriminatif dan seimbang dalam urusan seksual.
Kontraversi Dunia Seksualitas
Pandangan Freud tentangseksualitas, terutama yang menyangkut anak-anak, menimbulkan kegemparan yang
hebat pada zamannya. Ia mengatakan bahwa naluri seksual jauh lebih rumit
daripada apa yang ada dalam anggapan orang sebelumnya. Impuls seksual telah ada
sejak dilahirkan, tetapi segera disingkirkan oleh proses reresi yang progresif.
Seksualitas dari para penderita neurosis dan penyimpangan biasanya masih berada
dalam keadaan atau dikembalikan ke masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan
puberitas dipenuhi dengan berbagai hambatan seksual dan perkembangannya bisa
menjadi salah arah atau berhenti pada suatu tahap (fiksasi).
Definisi Freud tentang apa yang
disebut seksual itu luas tidak seperti pemahaman kebanyakan orang tentang seksual. Teorinya tentang
berkembangnya anak secara seksual telah menjadi suatu model bagi perkembangan
psikologis dan sosial pada umumnya.. Menurut Freud, perkembangan seksual yang
normal seharusnya melewati tahap-tahap tertentu yang berlaku pada semua anak
yakni tahap oral, anal, phallic, latensi, dan gemital. Orang bisa jadi terpaku
pada tahap yang manapun. Kejadian ini disebut fiksasi. Freud mengembangkan
suatu teori yang menggemparkan, yang disebutnya komplek Oedipus. Untuk
menjelaskan dasar dari perkembangan psiko-seksual.
Menurut Michel Foucault, seks menrupakan bagian dari ciri
manusia sebgai mahluk yang berhasrat (the desiring subject). Pada zaman
Yunani kuno, orang-orang mengolah hasrat seks menjadi bagian dari kegiatan yang
sejajar dengan filsafat (philoshopy) , ekonomi (economic), dan
pengelolaan kesehatan (dietetics). Tampaknya Foucault memperlihatkan,
bahwa kegiatan seks pun mempunyai prestise yang tinggi. Dan seperti halnya
kegiatan-kegiatan yang lain, kegiatan seks pun memerlukan pengelolaan yang
tidak sederhana, strategi dan perencanaan, pertimbangan dan keputusan yang
tepat (The History of Sexsuality, vol. 2, Penguin Books, 1985). Akan
tetapi dalam Abad Pertengahan atau era
Kristen di Eropa, kegiatan seks menjadi sesuatu yang dianggap berbahaya dan ditakuti.
Agamawan Kristen menjadikan seks sebagai sosok yang perlu diwaspadai karena
menimbulkan hasrat yang kuat yang disebut nafsu, dan diberi label khusus
sebagai “dagin” (caro).
Salah satu buku psikologi yang menarik tentang seks
ditulis oleh Eric Berne. Judulnya, Sex in Human Loving (Penguin Books,
1970) buku in telah dicetak berulang-ulang kali, sebelumnya Eric Berne juga
menerbitkan buku yang sangat laris, Game People Play (Penguin Books,
1964). Dalam Sex in Human Loving, Berne tampaknya mengembangkan pikiran
tentang permainan seks dalam pergaulan manusia.
Charles Pickstone, seorang pendeta Anglikan, dalam For
Fear of the Angles (Hodder and Stoughton, London, 1996) mengemukakan
perkembangan tendensi manusia dewasa ini dalam menggunakan seks untuk menggeser
peran agama dalam hasratnya menyelami misteri dibalik kehidupan.
Franz Magnis Suseno, seorang rohaniawan Katolik
mendefinisikan tentang kepornoan tersebut. Menurutnya, ada tiga kategori dalam
soal ini yaitu indesensi, erotis dan porno. Indesensi adalah perilaku tak
sopan, erotis bermakna lebih kepada kesadaran si subyek yang melihat, sedangkan
porno adalah yang menyangkut kelamin, payudara dan hubungan seks di muka umum.
Porno adalah segala apa yang merendahkan manusia sebagai obyek nafsu seksual
saja. (Suara Pembaruan 22/02)
Pada zaman tradisional, manusia tidak terlalu peduli dengan penutup dari
tubuh mereka. Pada saat itu pakaian tidak terlalu penting sehingga mereka harus
mengenakannya. Ataupun kita bisa melihat sebagian warga kita di Papua di mana
mereka hanya memakai koteka kemana pun mereka pergi. Akan tetapi sekarang ini
pakaian bukan hanya menjadi kebutuhan untuk menutup tubuh (sebagai standar
moral tertentu) tetapi sudah masuk ke dalam dunia modedi mana manusia dipaksa untuk memilih jenis pakaian
tertentu untuk waktu tertentu dan tempat tertentu
Saat ini fungsi pakaian tidak sekedar menutup tubuh untuk menghindari hawa
dingin atau sejenisnya, tetapi sudah merupakan simbol untuk mengkomunikasikan
kepada orang lain darimana dan dari golongan siapa mereka berasal. Pakaian,
sekarang ini juga menunjukkan tentang kehalusan perempuan dan keperkasaan
laki-laki. Apalagi kecantikan, dimana dahulu kecantikan dianggap sebagai nasib
atau anugrah yang alami tetapi sekarang ini kecantikan bisa diperoleh
dimana-mana dengan definisi tertentu ; rambut hitam panjang, kaki jenjang, gigi
rata putih, perut langsing dan lain-lain
Namun, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar
tubuh. Hakikat manusia sebenarnya bukanlah pada tubuhnya melainkan pada ruhani,
hati dan pikirannya yang teraktualisasi pada akhlak dan amal perbuatannya.
Banyak sekali ayat al-Qur’an yang justru mempertanyakan keadaan pikiran dan
hati manusia (afala ta’qilun, afala tadabbarun, afala tatafakkarun) .
Inilah yang membedakan manusia dengan binatang yaitu bukan pada tubuhnya tetapi
akal dan pikirannya. Bahkan manusia yang tidak menggunakan akalnya akan dicap
lebih hina dari binatang. Sungguh mengerikan nasib tubuh yang terpenjara oleh
teks, baik teks keagamaan maupun undang-undang.
Kalau masih mau berbicara tentang ‘tubuh’ untuk diatur
lebih detail, seharusnya pembuat kebijakan harus memiliki keperihatinan dan
kepekaan atas nasib orang-orang yang hidup di jalanan yang ‘tubuhnya’ cacat,
buta dan lumpuh untuk lebih diperhatikan nasib dan hak sebagai warga negaranya.
Atau mereka secara fisik sempurna, tapi hak-hak tubuhnya terampas oleh bentuk
ketidakadilan ekonomi dan sosial. Dengan cara pandang seperti ini, jika ada
manusia yang setiap hari sibuk dengan ‘tubuhnya’, maka sebenarnya telah
merendahkan martabatnya. Apalagi jika memamerkan tubuh dimotivasi untuk
mendapatkan uang misalnya, menyebarkannya melalui media maka implikasinya akan
jauh lebih buruk. Oleh karenanya, aplikasikan wahyu seksualitas agama dengan
akal pikiran dan hati nurani yang bersih.
Aktivis Muda
Nahdlatul Ulama (NU)
Posted by B. Sasongko at 8:36 AM 1 comments



